
Joko Widodo menegaskan bahwa proyek
Kereta Cepat Whoosh
tidak semata-mata bertujuan untuk mencari laba, melainkan menjadi simbol kemajuan transportasi publik di Indonesia.
Namun, pernyataan itu mendapat tanggapan dari sejumlah pengamat transportasi yang menilai bahwa persoalan utama
justru terletak pada kemampuan PT Kereta Api Indonesia (KAI)
dalam mengelola proyek secara berkelanjutan.
Pernyataan Presiden Jokowi
Dalam kunjungannya ke Stasiun Halim, Jakarta, Jokowi menyampaikan bahwa Kereta Cepat Whoosh
merupakan langkah besar menuju transformasi infrastruktur modern.
Ia menekankan bahwa keberadaan proyek tersebut lebih berorientasi pada manfaat sosial dan efisiensi waktu,
bukan semata keuntungan finansial.
“Jangan hanya melihat dari sisi keuntungan atau kerugian. Ini soal perubahan besar dalam cara masyarakat bergerak
dan berpindah antarwilayah,” ujar Jokowi. Ia juga menambahkan bahwa banyak negara maju memiliki
sistem transportasi cepat yang tidak selalu menghasilkan laba, tetapi memberikan dampak ekonomi yang luas.
Tanggapan Pengamat Transportasi
Pengamat transportasi Aditya Dwi Nugroho menilai bahwa pernyataan Presiden memang logis
dari perspektif pembangunan nasional. Namun, menurutnya, persoalan terbesar justru terletak pada tata kelola dan
transparansi PT KAI sebagai operator utama proyek.
“Masalahnya bukan pada laba atau tidak laba. Masalahnya KAI belum memiliki sistem bisnis yang cukup kuat
untuk memastikan keberlanjutan proyek sebesar ini.
Kalau subsidi terlalu besar tanpa pengawasan efisien, risiko keuangan jangka panjang akan muncul,” kata Aditya.
Ia juga menyoroti pentingnya analisis beban operasional, tarif tiket yang realistis,
serta strategi integrasi moda transportasi. Tanpa itu, Whoosh bisa menghadapi kesulitan untuk menutupi biaya pemeliharaan
dan operasional harian.
Siapa yang Mengelola Kereta Whoosh?
Proyek kereta cepat ini dikelola oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC),
perusahaan patungan antara PT KAI dan konsorsium perusahaan asal Tiongkok.
KCIC bertanggung jawab atas operasional, pemeliharaan, dan pengembangan rute.
Namun, pengamat menilai bahwa hubungan kerja antara KAI dan KCIC perlu lebih transparan.
Beberapa laporan menyebutkan adanya ketidakseimbangan dalam pembagian tanggung jawab finansial dan teknis,
yang berpotensi memengaruhi kinerja jangka panjang proyek tersebut.
Efisiensi dan Dampak Ekonomi
Sejak diluncurkan pada Oktober 2023, Kereta Cepat Whoosh telah mengangkut lebih dari satu juta penumpang.
Waktu tempuh antara Jakarta dan Bandung yang semula memakan waktu tiga jam kini dapat ditempuh dalam waktu kurang dari 50 menit.
Dari sisi efisiensi, capaian ini dianggap sebagai terobosan besar dalam sistem transportasi nasional.
Meski demikian, sejumlah ekonom menilai bahwa proyek besar semacam ini tetap membutuhkan
model bisnis yang berkelanjutan agar tidak membebani keuangan negara.
Pemerintah diharapkan mampu menyeimbangkan antara manfaat publik dan tanggung jawab finansial operator.
Menuju Transportasi Publik Modern
Kereta Whoosh menjadi simbol penting dari arah baru pembangunan infrastruktur Indonesia.
Proyek ini tidak hanya mempercepat mobilitas manusia, tetapi juga diharapkan memicu pertumbuhan ekonomi di sepanjang koridor Jawa Barat.
Namun, tantangan tata kelola, transparansi, dan efisiensi biaya masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Dengan dukungan kebijakan yang konsisten dan evaluasi berkala,
proyek Kereta Cepat Whoosh berpotensi menjadi model pengembangan transportasi berkelanjutan di masa depan.
Seperti disampaikan para pengamat, keberhasilan proyek ini tidak hanya diukur dari neraca laba,
tetapi dari seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat luas.


