Sentani — Tradisi pemberian mahar dalam pernikahan adat Papua kembali menarik perhatian publik setelah mencuatnya kabar mengenai mahar senilai miliaran rupiah di wilayah Sentani. Fenomena ini menimbulkan diskusi hangat di kalangan masyarakat dan tokoh adat, karena dianggap mulai bergeser dari makna aslinya sebagai simbol penghormatan menjadi ajang pembuktian status sosial.
Menurut tokoh adat setempat, mahar dalam budaya Sentani sejatinya memiliki nilai spiritual dan sosial yang tinggi. Mahar tidak semata soal nominal, melainkan simbol tanggung jawab dan penghormatan kepada keluarga mempelai perempuan. Namun, perkembangan zaman serta pengaruh modernitas membuat tradisi tersebut sering disalahartikan. “Sekarang banyak yang memaknai mahar sebagai gengsi, bukan lagi penghormatan. Ini yang harus diluruskan,” ujar salah satu pemuka adat di Sentani, Jumat (8/11).
Para akademisi dari Universitas Cenderawasih menilai perlunya forum adat untuk membahas ulang batas kewajaran nilai mahar. Menurut mereka, evaluasi tersebut penting agar masyarakat tidak terbebani secara ekonomi sekaligus tetap menjaga kelestarian adat. Pemerintah daerah Jayapura pun dikabarkan siap memfasilitasi pertemuan lintas kampung demi menciptakan kesepahaman baru dalam penentuan mahar adat.
Baca juga: Kasus mahar senilai Rp3 miliar yang melibatkan Kakek Tarman
Sementara itu, kelompok pemuda Sentani mulai menggagas gerakan “Adat Bijak”, sebuah inisiatif yang mendorong kesadaran masyarakat untuk meninjau ulang nilai adat yang dinilai tidak lagi relevan dengan kondisi sosial saat ini. Melalui diskusi budaya dan lokakarya, mereka berupaya menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi dan keberlanjutan ekonomi keluarga.
Tradisi mahar tetap menjadi bagian penting dalam identitas masyarakat Papua. Namun, di tengah dinamika zaman modern, banyak pihak berharap agar praktiknya bisa lebih inklusif, tidak menimbulkan tekanan ekonomi, serta tetap mencerminkan nilai luhur masyarakat Sentani yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kehormatan.
Kategori: Adat, Budaya, Papua, Sentani, Indonesia














